4 Seni Resiliensi Psikologi Berikut ini Akan Menguatkan Emosi Anda

Resiliensi Psikologi

Tidak akan ada habisnya memahami seni resiliensi psikologi. Biar bagaimanapun, hidup harus terus berlanjut meskipun Anda pernah tertimpa masalah yang sangat besar. Jika seseorang punya kondisi mental yang rapuh, mereka akan mendapati diri mereka kesulitan untuk melupakan semua masalah, dan justru menutup pintu akan datangnya masa depan yang lebih cerah. Jadi untuk menjadi seseorang dengan kendali emosi yang kuat, ia harus belajar bagaimana cara menjadi resilien, yaitu mampu bertahan dalam situasi yang sulit.

Sebelum itu, mari kita cari tahu apa itu resiliensi psikologi

Topik resiliensi psikologi mungkin terdengar seperti subyek modern yang ditemukan baru-baru ini saja, namun mekanismenya sendiri sudah berlangsung sejak lama. Faktanya, sejak saat pertama manusia dilahirkan, mereka mulai mengembangkan resiliensi dalam pikiran mereka. Selagi Anda hidup, sejak Anda kecil, keadaan telah mengubah emosi Anda secara drastis dan konstan. Kemudian Anda mengembangkan mekanisme dalam diri tentang bagaimana menanggapi perubahan tersebut.

Itulah dasar mekanisme resiliensi. Begitu manusia bertambah usia, mereka harus beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda-beda, baik itu manusia, budaya, atau perilaku. Jika Anda memiliki kemampuan beradaptasi dan menjadi orang yang lebih baik, pikiran Anda akan ikut beradaptasi juga dan menjadi lebih kuat. Perilaku seperti ini telah dibahas dalam sebuah artikel di majalah lama yang ditulis oleh Hara Estroff Marano, bisa dilihat di sini.

Meski demikian, resiliensi psikologi bukan berarti Anda kebal terhadap stres

Ada satu alasan mengapa sebagian orang lebih rentan terhadap stres dan gangguan emosional daripada orang lain. Dan bahkan jika Anda telah membangun resiliensi psikologi yang kuat, tidak akan membuat Anda 100% kebal terhadap segala bentuk negativitas. Manusia tetap bisa merasakan tekanan, kesedihan, dan rasa sakit, dan pada waktu tertentu bahkan merasa kewalahan dengan perasaan mereka sendiri. Jika demikian, mengapa repot-repot menguatkan kondisi mental Anda?

Inti dari resiliensi psikologi sesungguhnya adalah tentang “kembali ke bentuk semula setelah melalui pengalaman dan tekanan yang buruk.” Ketika Anda mengalami hari yang buruk, Anda tahu bagaimana cara kembali menemukan kebahagiaan. Ketika Anda bermasalah dengan senior, Anda akan berdamai dan menyelesaikan masalah, bukannya mengeluh terus menerus. Semua hal tersebut dianggap sebagai proses “adaptasi” dan merupakan aset berharga sebagai bekal menuju masa dewasa, terutama dalam menghadapi realita yang keras di luar sana.

Oleh sebab itu, Anda harus belajar bagaimana cara menjadi resilien

Benar adanya bahwa bagaimana cara Anda dibesarkan adalah faktor penting dalam pertumbuhan resiliensi psikologi dalam diri Anda. Meskipun demikian, bukan berarti meningkatkan resiliensi Anda sebagai orang dewasa itu sulit dan hampir mustahil. Ikuti 4 tips berikut ini, kuasai perilaku Anda sendiri, dan pahami bahwa hidup akan menjadi lebih baik. Dengan begitu Anda akan tumbuh menjadi orang yang lebih baik, yang bisa menemukan tempat Anda kapan saja dan dimana saja.

  1. Terima perubahan sebagai bagian kehidupan

Semuanya akan berubah, terlepas dari Anda suka atau tidak, dan Anda tidak dapat menghentikannya. Tujuan hidup Anda akan lebih sulit tercapai ketika Anda menyadari realitas di sekelilingnya. Karena itu, Anda harus menerima fakta bahwa beberapa hal tidak bisa diubah dengan mudah atau bahkan tidak bisa sama sekali. Daripada merenungkan hal itu, lebih baik Anda fokus dengan apa yang Anda miliki saat ini dan terhadap hal-hal yang bisa Anda ubah.

  1. Buatlah koneksi yang berkualitas

Resiliensi psikologi tidak muncul dari interaksi minimal saja. Seni resiliensi diuji dan berkembang begitu Anda berinteraksi dengan makhluk hidup lainnya. Itulah mengapa Anda perlu membuat koneksi yang berkualitas; teman-teman yang bisa diajak berbagi cerita hidup Anda. Orang-orang yang baik akan saling mendukung satu sama lain dan membantu memperbaiki kondisi emosionalnya, termasuk resiliensi. Dan begitu Anda menemukan mereka, mereka akan menjadi seseorang yang sangat Anda hargai sepanjang hidup.

  1. Jangan hanya memikirkan diri sendiri, pikirkan orang lain juga

Hal yang buruk kadang tidak terjadi karena kebetulan. Seorang rekan kerja mungkin membuat Anda jengkel dengan produktivitasnya yang lamban atau perilakunya yang buruk, tapi Anda tidak tahu mengapa mereka bersikap demikian. Dengan membuka diri pada orang tersebut, Anda akan menemukan penyebabnya, kemudian Anda berdua bisa saling mendukung satu sama lain. Itulah contoh melihat sesuatu melalui perspektif yang lebih luas: Anda tidak hanya melihat diri Anda dalam suatu permasalahan, tetapi juga orang lain.

Dengan berlaku demikian, Anda akan belajar bagaimana cara memahami satu salam lain. Dan dengan itu Anda akan menemukan kebaikan dalam segala dan memandang segala sesuatu dengan sikap positif.

  1. Penemuan diri meningkatkan pikiran dan kepribadian Anda

Seni resiliensi psikologi adalah tentang menemukan aspek baru dari diri Anda pada setiap hal kecil dalam hidup. Hal-hal kecil yang terjadi di masa lalu akan mengubah cara Anda berpikir dan bertindak di masa depan, dan penting untuk mengakui hal itu. Lagipula, segala sesuatu yang tidak membunuh Anda akan membuat Anda lebih kuat, dan setiap masalah akan menjadikan Anda seseorang yang lebih baik. Jadi, jangan berhenti melebarkan pengalaman hidup dan selalu temukan hal-hal baru dalam diri Anda selama Anda hidup.

Singkatnya, anggap saja resiliensi psikologi itu ibarat mendaki gunung. Medannya yang berat akan menguras energi, dan Anda akan terus bertanya apakah Anda sudah dekat dengan puncaknya. Namun sepanjang perjalanan Anda mungkin mendirikan tenda dan menemukan hal-hal baru yang menarik. Dan begitu Anda mencapai puncaknya, Anda akan melihat pemandangan indah dan mengenang perjalanan yang telah dilalui.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like