Teka-Teki Altruisme Resiprokal: Apa yang Menyebabkan Manusia Saling Menolong?

Perselisihan terjadi hampir di seluruh dunia baru-baru ini. Banyak korban—terutama wanita dan anak-anak—menderita akibat perang yang terjadi terus menerus. Sementara sebagian besar dari kita hanya bisa melihat dan meratapi dari jauh, ada beberapa orang yang benar-benar datang ke wilayah konflik dan memberi pertolongan. Beberapa dari mereka dibayar, namun sebagian yang lain melakukannya dengan sukarela. Bisakah Anda mempercayainya? Mereka membahayakan diri mereka sendiri tanpa mendapatkan uang sepeser pun!

Banyak ilmuwan dan filsuf bertanya-tanya apa yang membuat manusia saling menolong. Bersadarkan teori neo-Darwinian, manusia adalah makhluk egois. Kita diciptakan dengan ribuan gen, mempertahakan diri kita, dan mereproduksi generasi yang baru. Oleh karena itu, menolong atau bahkan mengorbankan diri kita untuk orang lain terdengar tidak masuk akal. Mungkin itulah alasan mengapa teori altruisme resiprokal hadir.

Apa itu Altruisme Resiprokal?

Altrusime resiprokal adalah sebuah teori yang menjelaskan perilaku menolong manusia terhadap orang lain dengan harapan mereka akan mendapatkan balasan pertolongan di masa depan. Perilaku ini meliputi (tetapi tidak terbatas pada) menolong orang lain yang sedang dalam kesakitan karena kecelakaan atau menderita penyakit tertentu dan membagi pengetahuan, obat, makanan, uang, dsb.

Menurut teori tersebut, rasa kecewa yang timbul saat orang yang pernah kita tolong tidak berbalas menolong kita adalah sifat alamiah manusia. Di sisi lain, jika kita menerima pertolongan namun tidak membalasnya, kita akan merasa menyesal. Sesungguhnya, masyarakat kita terbangun atas dasar tolong-menolong satu sama lain.

Meski sedikit berbeda dari manusia, altruisme resiprokal juga menjadi sebuah fenomena di antara beberapa jenis hewan. Simpanse akan menyayangi sesama mereka yang pernah menolong sebelumnya, sedangkan kelelawar akan memberi makanan pada “rekannya” yang pernah menolong mereka juga. Sepertinya, fenomena ini terjadi di antara spesies yang memiliki koloni tetap dengan masa hidup yang panjang.

Dalam sejarah, konsep “altruisme” pertama kali diperkenalkan oleh Auguste Comte, filsuf asal Prancis, pada abad ke-19. Diambil dari bahasa Prancis, “altruisme”, Comte yakin bahwa konsep tersebut sebenarnya adalah doktrin moral—melawan egosime—yang terfokus pada pengorbanan diri kita demi keuntungan orang lain. Dengan kata lain, Comte percaya bahwa kita manusia memiliki sisi egois dan altruistik, dimana yang terakhir disebut ini dimaksudkan untuk membatas keegoisan kita.

Apakah Ada yang Disebut dengan Altruisme Murni?

Saya memperkirakan bahwa banyak perbuatan baik didorong oleh kepentingan pribadi, tetapi sebaliknya, saya juga percaya percaya adanya altruisme “murni”. Tindakan baik yang dilakukan oleh sukarelawan terhadap korban di medan perang seperti memberi makanan, pakaian, obat-obatan, serta merawat mereka yang terluka dapat dianggap sebagai altruisme murni.

Tindakan mulia yang disebut di atas membuat Anda merasa lebih baik terhadap diri Anda sendiri, sebagai hasilnya orang lain akan menghormati Anda. Pada akhirnya, orang lain pun kemungkinan besar akan menolong Anda nantinya. Namun, ada juga kemungkinan bahwa Anda menolong orang lain secara sukarela semata-mata untuk meringankan beban dan penderitaan para korban. Terdengar mustahil? Baca kasus lain di bawah ini.

Pagi ini saya ketika ingin memanaskan sup sisa semalam di atas kompor, saya melihat semut yang merayap di sisi panci. Alih-alih menjatuhkan semut itu atau mengabaikannya, saya menempelkan jari saya secara hati-hati di sisi panci dekat dengan si semut untuk memberinya jalan agar menjauh dari panci.

Begitu semut itu merayapi jari saya, saya memindahkannya ke tempat yang lebih aman di dapur. Setelah itu, saya kembali melanjutkan aktivitas memasak saya.

Menurut Anda, mengapa saya melakukan tindakan “mulia” seperti itu? Apakah Anda berpikir bahwa saya melakukannya dengan ekspektasi bahwa si semut akan bisa menolong saya balik di momen-momen yang membahayakan hidup saya sebagaimana saya menolongnya? Atau apakah si semut akan mengatakan pada semua temannya bahwa saya adalah manusia yang baik? Atau mungkin saya melakukannya hanya untuk menghormati makhluk hidup lainnya? Mana yang terdengar paling masuk akan bagi Anda?

Maaf, tapi tidak ada jawaban yang benar di antara pilihan-pilihan tersebut. Saya pikir ketika saya memutuskan untuk melakukan tindakan “mulia” yang sederhana seperti itu, saya didorong oleh empati saya. Saya merasa iba pada si semut sebagai makhluk hidup yang masih pantas hidup, sama seperti saya. Saya mencoba merasakan bagaimana jika saya ada di posisinya. Oleh karena itu, saya yakin bahwa empati adalah penyebab tindakan altruisme murni.

Meskipun demikian, empati memang diartikan sebagai kemampuan kognitif untuk memandang dunia ini melalui prespektif orang lain, dan saya pikir saya terlalu meremehkannya. Saya yakin empati jauh lebih besar dari itu. Menurut pandangan saya, semua makhluk hidup di alam semesta—tidak terbatas hanya pada manusia saja—pada dasarnya saling terhubung melalui empati.

Kesimpulan: Teka-Teki Telah Terselesaikan

Jika kita melihat diri kita dari perspektif evolusioner, kita tidak lebih dari sekedar pembawa puluhan ribu gen yang egois dan hanya ingin mempertahankan diri sendiri. Untungnya, kita diberkati dengan perasaan altruistik untuk mengimbangi keegoisan kita.

Namun memang sangat manusiawi jika kita melakukan kebaikan berdasarkan konsep altruisme resiprokal, dimana kita mengharapkan orang lain untuk berbalas menolong kita. Faktanya, menolong orang lain dianggap sebagai metode survival—tidak hanya untuk manusia saja tetapi juga makhluk hidup lainnya. Lebih jauh lagi, kita juga mampu menujukkan empati kita dalam level yang lebih tinggi, yang berdasar pada altruisme murni. Kita bisa menolong orang lain hanya untuk menempatkan diri kita di “posisi” mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like