Ciri-ciri Orang Perfeksionis: Apakah Anda Lazim Menemuinya dalam Keseharian Anda?

ciri orang perfeksionis

Apabila Anda bertanya-tanya apakah sebetulnya Anda ini tergolong sebagai orang yang perfeksionis atau tidak, boleh jadi Anda memang seorang perfeksionis, setidaknya sampai fase tertentu. Dan, bicara blak-blakan soal perfeksionisme, ada juga peluang bagus jika Anda pada hakikatnya memiliki potensi untuk menjadi seorang perfeksionis apabila dilihat dari konotasi positif dari kata “sempurna” itu sendiri – siapa yang tidak mau menjadi figur yang istimewa ketimbang hidup sebagai pribadi yang biasa-biasa saja? (Bah! Perfeksionis, itulah saya!)

Penting hukumnya untuk mengedukasi diri Anda sendiri tentang apa itu perfeksionisme dan mengapa keyakinan yang satu ini dicap sebagai hal yang amat buruk, sehingga Anda dapat memutuskan seberapa banyak karakter yang Anda miliki terkait perfeksionisme yang tidak boleh Anda aggap enteng, dan cara menyingkirkan sifat-sifat tercela tersebut.

Yang menjadikan perfeksionisme dipandang sebagai sesuatu yang negatif – dan alasan mengapa Anda harus mendeteksi keberadaan sifat-sifat terkait perfeksionisme di dalam diri Anda sedini mungkin dan apa yang harus Anda lakukan terhadap diri Anda sendiri – adalah bahwa si perfeksionis cenderung mencapai lebih sedikit hasil dari ekspektasi, dan ia justru menerima tekanan yang lebih berat dari apa yang dialami orang-orang pada umumnya.

Berikut adalah lima ciri orang perfeksionis yang mungkin dapat Anda temukan pada diri Anda sendiri atau pada orang-orang yang Anda kenal. Apakah hal-hal ini biasanya terjadi di keseharian Anda?

Paham “selesaikan hingga tuntas atau tidak sama sekali”

Para perfeksionis, sebagaimana para high achievers pada umumnya, juga cenderung menetapkan tujuan yang tinggi dan bekerja keras untuk mencapainya. Namun, seorang high achiever merasakan puas hati cukup dengan menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan mencapai hasil yang baik (atau mendekati), bahkan jika tujuan utamanya tidak sepenuhnya terpenuhi. Sementara itu, sang perfeksioknis tidak akan mengakui apapun kecuali hasil yang sempurna. Bahkan, bagi orang-orang dengan kepribadian seperti ini, “nyaris sempurna” pun tetap dipandang sebagai kegagalan.

Standar yang tidak realistis

Sayangnya, goals dari para penganut paham perfeksionisme tidak selalu dibuat berdasarkan logika. Ketika para high achievers mengambil keputusan untuk membuat tujuan akhir mereka setinggi mungkin, hal itu didasarkan pada keinginan mereka untuk bersenang-senang dengan melampaui target semula. Sebaliknya, perfeksionis justru menetapkan tujuan awal mereka jauh di luar jangkauan kapasitas dan kemampuan mereka.

Orang-orang yang tergolong ke dalam kelompok para high achiever bukan semata-mata lebih bahagia, mereka juga lebih sukses daripada perfeksionis dalam mengejar tujuan mereka.

Mengutamakan hasil ketimbang proses

Para high achiever dapat menikmati proses yang mereka lalui dalam mewujudkan tujuan mereka sebanyak atau melebihi pencapaian tujuan akhir itu sendiri. Sebaliknya, perfeksionis hanya terpaku pada tujuan mereka tanpa mengalihkan padangan pada hal lain. Mereka begitu khawatir tentang mencapai tujuan itu sendiri dan menghindari segala bentuk kegagalan yang menakutkan sehingga mereka tidak dapat menikmati proses untuk bertumbuh dan berjuang menjadi sosok yang lebih baik.

Tertekan oleh tujuan akhir yang tidak dapat dipenuhi

Orang-orang yang mengidap gejala perfeksionis merasakan lebih sedikit kebahagiaan dan sulit berinteraksi dengan orang lain daripada mereka para high achiever. Di saat orang-orang lain mampu bangkit kembali dengan penuh semangat dari kekecewaan akibat gagal melaksanakan tugas mereka dengan baik, para perfeksionis justru cenderung mencela diri sendiri dan berkubang dalam keputusasaan ketika ekspektasi mereka tidak terpenuhi.

Suka menunda-nunda pekerjaan

Agaknya kontradiktif jika mereka yang memiliki sifat perfeksionis cenderung rentan untuk menunda-nunda pekerjaan mereka, karena penangguhan itu sendiri dapat mencederai produktivitas mereka, namun bukan hal yang mengejutkan jika sejatinya perfeksionisme dan prokratisnasi berjalan berdampingan. Hal ini dikarenakan, sebagaimana para perfeksionis takut akan kegagalan, mereka juga sangat khawatir tiap kali mengerjakan suatu tugas dengan kapasitas minimum mereka hingga pada akhirnya mereka pun memilih untuk menjadi “pihak yang tak berdaya” dan enggan berbuat apa-apa sama sekali sampai detik terakhir.

Menunda-nunda pekerjaan dapat berdampak pada menguatnya rasa takut akan kegagalan, menjadikan prokrastinasi itu sendiri sebagai lingkaran setan yang hidup abadi di dalam diri masing-masing perfeksionis.

Secuil nasihat untuk Anda

Apabila Anda mendapati beberapa sifat perfeksionis ini di dalam diri Anda, jangan terburu-buru berputus asa. Langkah pertama yang sangat penting untuk menciptakan pribadi yang lebih fleksibel serta mencapai kedamaian jiwa dan kesuksesan nyata yakni dengan mempercayai bahwa Anda memerlukan sebuah perubahan. Dari situ, Anda akan mampu mengatasi perfeksionisme yang menjangkiti diri Anda dan meyakini bahwa mengerjakan sesuatu dengan hasil yang “hampir sempurna” pun bisa dibilang sebagai suatu pekerjaan yang juga diselesaikan dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like