Pelajari Kemampuan Komunikasi Asertif dalam 5 Langkah Sederhana

kemampuan komunikasi asertif

Komunikasi asertif dapat memperkuat hubungan Anda dengan mengurangi stres yang diakibatkan oleh konflik dan mendukung Anda secara sosial ketika dilanda masa-masa sulit. Sebuah komunikasi yang sopan namun tegas ketika mengatakan “tidak” untuk permintaan yang tidak wajar dari orang lain akan memungkinkan Anda untuk menghindari penumpukan jadwal di luar kehendak Anda. Dengan demikian, hidup Anda pun akan menjadi lebih seimbang.

Pemahaman yang mendalam tentang komunikasi asertif juga dapat membantu Anda ketika menangani keluarga, teman, dan rekan kerja yang sulit diajak berinteraksi dengan lebih mudah, mengurangi drama dan stres di hidup Anda. Pada akhirnya, komunikasi asertif memberdayakan Anda untuk membuat batasan-batasan yang diperlukan, di mana pembatasan ini akan memungkinkan Anda untuk memenuhi kebutuhan pribadi tanpa melibatkan amarah yang dapat mengasingkan perasaan orang lain. Komunikasi asertif pun membantu Anda untuk mendapatkan apa yang Anda butuhkan dalam kehidupan sosial Anda, sembari memberikan kesempatan pada orang-orang yang Anda cintai untuk memenuhi kebutuhannya juga. Meski banyak orang mengidentikkan antara “komunikasi asertif” dengan “konflik” dan “konfrontasi”, berkomunikasi secara tegas sebenarnya justru dapat merekatkan hubungan antara pembicara dan pendengar.

Agar cakap berkomunikasi secara asertif, memang membutuhkan banyak latihan. Banyak orang salah mengartikan “tegas” dengan menganggapnya sebagai “agresivitas”, tetapi bersikap tegas sejatinya adalah jalan tengah yang ideal antara bersikap agresif dan pasif. Sikap agresif dapat melukai perasaan masing-masing pihak yang terlibat dalam suatu pembicaraan, pun merusak hubungan yang sudah terjalin dengan baik. Sementara itu, bersikap pasif dapat menyebabkan stres dan menimbun dendam, tak jarang pula pelakunya bahkan memberikan serangan balik.

Tingkatkan Kemampuan Komunikasi Anda

Berlatih berbicara dengan tegas memungkinkan Anda untuk menghormati hak dan kewajiban setiap orang – termasuk Anda sendiri – dan mempertahankan batas-batas wajar dalam hubungan sambil tak lupa pula untuk tetap menghargai opini dan perasaan orang lain di saat yang bersamaan. Langkah-langkah berikut ini dapat membantu Anda mengembangkan kemampuan Anda untuk berkomunikasi dengan tegas (dan secara bertahap mengatasi stres yang ada dalam kehidupan Anda).

1. Paparkan apa yang tidak Anda sukai dari pihak lain dengan faktual, dan jangan menghakimi secara sepihak

Saat Anda hendak membeberkan tentang perilaku yang kurang Anda sukai dari orang lain, tetap berpegang pada deskripsi faktual tentang apa yang telah mereka lakukan, alih-alih membiarkan emosi mengambil kendali dan melabeli orang tersebut dengan kata-kata negatif.

Misalnya:

Situasi: Teman Anda – yang memiliki kebiasaan datang terlambat – muncul 20 menit setelah waktu yang sudah dijanjikan untuk makan siang bersama.

Respons yang kurang pantas dilontarkan (agresif): “Anda tidak sopan, ya! Selalu saja datang terlambat.”

Komunikasi dengan asertif: “Kita seharusnya bertemu pada pukul 11:30 tepat, tapi sekarang sudah menunjukkan pukul 11:50.”

“Jangan berasumsi bahwa Anda tahu betul apa motif yang mendasari perilaku orang lain, terutama jika Anda beranggapan negatif terhadap orang tersebut. Dalam situasi seperti ini, hindari beranggapan bahwa teman Anda sengaja datang terlambat karena ia tidak ingin datang, atau karena ia tidak menghargai waktu Anda.”

2. Jangan membesar-besarkan persoalan, pastikan dengan benar dampak dari perilaku tersebut

Bersikap faktual tentang apa yang tidak Anda sukai dari perilaku seseorang – tanpa berlebihan menilai orang lain terlebih mendramatisir suasana – adalah awal yang penting dari berkomunikasi secara asertif. Hal yang sama juga berlaku untuk menjabarkan efek dari perilaku orang tersebut. Anda sebaiknya tidak membesar-besarkan persoalan yang sedang Anda hadapi, menghakimi atau memberi label secara sepihak pada lawan bicara Anda. Contohnya:

Respons yang kurang sopan: “Sekarang rencana makan siang kita hancur berantakan.”

Komunikasi yang tegas: “Sekarang saya punya lebih sedikit waktu untuk makan siang bersama Anda, karena saya masih harus kembali bekerja pada jam satu.”

“Bahasa tubuh dan nada bicara Anda sangat dibutuhkan dalam komunikasi secara asertif. Bahasa tubuh dan nada bicara tersebut akan mencerminkan diri Anda: berdiri dengan punggung tegak, pertahankan kontak mata, dan rileks. Gunakan nada yang tegas, tapi tetap menyenangkan.”

3. Gunakan kata ganti orang “saya”

Ketika kalimat Anda diawali dengan kata “Anda…”, hal tersebut dapat diartikan sebagai serangan dan penilaian negatif bagi lawan bicara Anda, menimbulkan sifat defensif bagi orang tersebut. Namun, apabila Anda menggunakan kata ganti orang pertama – yakni “saya” – fokus dari pembicaraan tersebut berubah menjadi bagaimana perasaan Anda dan apa pengaruh dari perilaku orang tersebut bagi Anda. Juga, kata ganti “saya” akan menunjukkan penekanan yang lebih besar terhadap reaksi Anda daripada keinginan untuk menyalahkan orang lain. Hal ini tentunya akan meminimalisir sikap defensif yang diberikan pihak lawan, mencontohkan tindakan yang bertanggung jawab, dan menggerakkan masing-masing pihak menuju perubahan positif. Contohnya:

Pesan dengan kata ganti “Anda”: “Anda harus berhenti bersikap seperti itu!”

Pesan dengan kata ganti “saya”: “Saya ingin Anda berhenti bersikap seperti itu.”

Saat berdiskusi pun, jangan lupa untuk mendengarkan gagasan yang disampaikan orang lain dan mengajukan pertanyaan!

4. Gabungkan ketiga langkah di atas

Berikut adalah formula hebat untuk menyatukan ketiga langkah yang sudah diuraikan sebelumnya: “Ketika Anda [sebutkan perilaku dari lawan bicara], saya merasa [utarakan perasaan Anda].”

Apabila digunakan untuk menyampaikan pernyataan faktual (daripada menghakimi atau melabeli orang lain dengan kata-kata yang tidak mengenakkan), susunan kalimat ini menjadi satu cara mengkomunikasikan pendapat Anda secara akurat, tidak bersifat menyerang perasaan orang lain, dan bertanggung jawab. Misalnya: “Ketika Anda berteriak, saya merasa tersinggung.”

5. Sebutkan perilaku lawan bicara yang mengganggu Anda, akibat dari tindakan tersebut, dan perasaan Anda terhadap situasi itu

Variasi yang lebih kompleks dari rumusan kalimat di atas mencakup tiga elemen berikut: perilaku dari lawan bicara, akibat yang ditimbulkan dari perilaku tersebut, dan bagaimana perasaan Anda menyikapi hal tersebut. Hasilnya akan terlihat seperti ini: “Ketika Anda [sebutkan perilaku lawan bicara], maka [akibat yang ditimbulkan], dan saya merasa [kemukakan perasaan Anda].”

Sebagai contoh: “Ketika Anda datang terlambat maka saya harus menunggu lebih lama, dan itu membuat saya frustrasi.”

Atau,”Ketika Anda memberitahu anak-anak bahwa mereka boleh melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah saya larang agar mereka tidak melakukannya, sebagian dari otoritas saya sebagai orang tua telah Anda renggut begitu saja, dan itu membuat saya merasa diremehkan.”

Cobalah menerapkan win-win solution ke dalam pembicaraan Anda: cari tahu apakah Anda dapat berkompromi dengan lawan bicara atau memenuhi kepentingan masing-masing pihak. Dalam kasus teman yang selalu datang terlambat, mungkin tempat pertemuan yang berbeda dapat membantunya untuk datang tepat waktu. Atau, Anda dapat membuat rencana untuk bertemu ketika jadwal Anda lebih longgar sehingga Anda tidak perlu merasa stres karena keterlambatan teman Anda tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like