Kurangi Stres dengan Meningkatkan Kemampuan Asertif

kurangi stres dengan komunikasi asertif

Kemampuan asertif (komunikasi asertif) biasanya tidak dianggap sebagai cara untuk mengurangi stres, tetapi Anda mungkin akan terkejut dengan hasil yang bisa Anda peroleh setelah melatih sifat karakter yang satu ini, di mana kemampuan asertif dapat dipergunakan untuk memperbaiki suasana hati.

Apa Itu Kemampuan Asertif?

Kemampuan asertif adalah kemampuan untuk mengekspresikan perasaan dan menegaskan hak diri sementara di saat yang bersamaan tetap menghormati perasaan dan hak-hak orang lain. Komunikasi yang asertif (tegas) biasanya bersifat langsung, terbuka dan jujur, serta menegaskan kebutuhan seseorang kepada orang lain dengan sejelas-jelasnya.

Pada beberapa orang sikap asertif merupakan karakteristik bawaan, namun bukan berarti sikap ini ialah keterampilan yang tidak dapat dipelajari. Mereka yang telah menguasai kemampuan asertif dapat mengurangi tingkat konflik interpersonal dalam kehidupan mereka secara drastis. Secara otomatis, hal ini juga mengurangi sumber utama penyebab stres.

Perbandingan antara Sifat Asertif dan Perilaku Lain

Terkadang orang-orang bingung membedakan antara sifat agresif dan asertif, menganggap bahwa kedua tipe perilaku tersebut sama-sama mengatur soal membela hak dan mengekspresikan kebutuhan seseorang. Namun, terdapat perbedaan fundamental di antara keduanya, yakni bahwa individu yang bersikap asertif (tegas) akan mengekspresikan diri mereka dengan cara-cara yang tetap menghormati pendapat orang lain. Orang-orang yang bersikap asertif ini selalu berpemikiran positif terhadap orang lain, menghargai diri sendiri, mengutamakan konsep “win-win solution” dan berkompromi.

Sebaliknya, mereka yang berperilaku agresif cenderung menggunakan taktik yang tidak sopan, manipulatif, merendahkan, bahkan kasar terhadap orang lain. Orang-orang tipe ini membuat asumsi negatif tentang motif orang lain dan selalu memikirkan soal “balas dendam”. Mereka juga sama sekali tidak pernah melibatkan sudut pandang orang lain dalam membuat keputusan pribadi. Mereka yang bersikap agresif memenangkan perdebatan dengan cara mengorbankan kepentingan orang lain dan tak jarang mereka juga menciptakan konflik yang tak perlu.

Sementara itu, ada satu tipe perilaku yang bertolakbelakang dengan sikap agresif dan asertif, yakni kepribadian pasif. Individu pasif tidak tahu bagaimana cara mengomunikasikan perasaan dan kebutuhan mereka pada orang lain. Sementara itu, ada satu tipe perilaku yang bertolakbelakang dengan sikap agresif dan asertif, yakni bersikap pasif. Individu pasif tidak tahu bagaimana cara mengomunikasikan perasaan dan kebutuhan mereka pada orang lain. Mereka juga mengalah dengan sengaja pada orang lain (dalam konteks komunikasi); masalahnya adalah siapa saja bisa menang dan kalah, setidaknya sampai batas tertentu.

Seperti Apa Sikap Asertif Itu?

Berikut ini adalah beberapa skenario umum yang bisa Anda temui dalam peristiwa sehari-hari, dengan contoh masing-masing respon dari tiga jenis perilaku yang telah dibahas di atas.

Skenario A: Seseorang memotong antrian Anda di supermarket.

Mereka yang bersikap agresif akan merespons kejadian di atas kurang lebih dengan pemikiran sebagai berikut: mereka menganggap bahwa orang asing tersebut sengaja memotong antrian dan dengan marah berkata,”Hei, jangan menyerobot!”

Sementara itu, contoh respons pasif adalah ketika Anda tetap membiarkan orang tersebut berada di depan Anda.

Namun, berbeda dari kedua respons di atas, bersikap asertif berarti menganggap bahwa orang tersebut mungkin tidak melihat Anda dalam antrian dan dengan sopan berkata,”Maaf, tapi Anda menghalangi antrian saya”.

Skenario B: Teman Anda, yang biasanya suka bertele-tele, menelepon Anda untuk menceritakan tentang harinya yang berjalan buruk. Sayangnya, Anda memiliki banyak pekerjaan yang harus Anda selesaikan dan tidak punya banyak waktu untuk mengobrol.

Menanggapi skenario di atas secara agresif, Anda mungkin akan meledak dalam amarah karena teman Anda tersebut tidak menghargai waktu Anda. Anda akan menyela pembicaraan dan dengan sinisnya berkata,”Oh, lupakan saja! Saya juga punya masalah!”.

Bagaimana jika merespon kejadian tersebut secara pasif? Anda akan membiarkan teman Anda berbicara selama yang dia mau dan menunda pekerjaan Anda meskipun Anda tahu deadline-nya tidak lama lagi; teman Anda lebih membutuhkan pertolongan Anda daripada pekerjaan yang sedang Anda lakukan.

Merespon secara asertif, Anda akan mendengarkan keluhan teman Anda selama beberapa menit, kemudian dengan nada menghibur berkata,”Wah, kedengarannya Anda benar-benar memiliki hari yang buruk! Sebenarnya saya senang bisa mengobrol dengan Anda, namun saat ini saya sedang tidak punya waktu untuk mengobrol. Bisakah kita melanjutkan pembicaraan ini nanti malam?”

Sekarang, Anda sudah mendapat gambaran yang jelas tentang perbedaan ketiga sikap ini, ‘kan?

Manfaat Bersikap Asertif

Orang dengan kepribadian asertif cenderung menghadapi lebih sedikit konflik dengan orang lain, yang mana dapat diartikan sebagai lebih sedikitnya tekanan dalam kehidupan mereka. Mereka memenuhi kebutuhan mereka dengan baik – yang juga berarti mengurangi rasa stres jika kebutuhan lain tidak terpenuhi – serta menolong orang lain untuk memenuhi kebutuhan mereka juga di saat yang bersamaan. Memiliki hubungan yang lebih kuat dan suportif sebenarnya menjadi jaminan yang bagus bahwa Anda akan selalu dikelilingi oleh orang-orang yang bisa diandalkan, yang juga berdampak positif bagi manajemen stres Anda, serta mengarah pada jasmani yang lebih sehat.

Orang-orang yang diperlakukan secara agresif cenderung merasa “diserang” kepribadiannya dan sebagai konsekwensi dari hal tersebut, mereka akan menghindari individu yang agresif. Seiring dengan berjalannya waktu, orang-orang yang berperilaku agresif akan mengalami kegagalan dan mengembangkan hubungan sosial mereka. Ironisnya, mereka belum memahami bahwa hal tersebut terjadi akibat dari perbuatan mereka sendiri. Mirisnya, mereka seringkali merasa sebagai pihak yang dirugikan pula.

Di sisi lain, orang-orang dengan sikap pasif berkeinginan untuk menghindari konflik dengan cara menjauhi percakapan yang membicarakan tentang kebutuhan dan perasaan mereka, meskipun dalam jangka panjang perilaku tertutup seperti ini dapat merusak kualitas hubungan sosial mereka. Mereka mungkin merasa sebagai korban dari “penindasan” orang lain, namun mereka terus saja bersikap pasif dan menghindari konfrontasi, perlahan-lahan menumpuk amarah mereka hingga akhirnya “meledak” dan mengatakan sesuatu secara agresif. Tidak akan ada yang tahu apa yang menjadi pemicunya sampai si pasif ini benar-benar meledak secara emosional! Akhirnya, hal ini berujung pada mengerasnya hati mereka, melemahnya hubungan sosial dengan orang lain, dan meningkatnya kecenderungan untuk tetap bersikap pasif dalam jangka waktu yang lama.

Bersikap Lebih Asertif

Langkah pertama untuk menjadi pribadi yang lebih tegas adalah dengan bersikap jujur dan terbuka terhadap diri sendiri dan respons Anda, hal ini berguna untuk melihat di mana Anda berada pada titik ini. Jawaban dari beberapa pertanyaan berikut akan membantu Anda untuk mencari petunjuk tentang kepribadian Anda saat ini:

  • Apakah Anda kesulitan menerima kritik yang bersifat konstruktif?
  • Apakah Anda mendapati diri Anda terus-menerus mengiyakan permintaan orang lain yang harusnya Anda tolak karena Anda merasa tidak enak jika mengecewakan orang tersebut?
  • Apakah Anda kesulitan menyuarakan opini Anda yang berbeda dari pandangan orang lain?
  • Apakah orang lain cenderung merasa terasingkan oleh style komunikasi Anda ketika Anda tidak setuju dengan pendapat mereka?
  • Apakah Anda merasa diserang secara pribadi ketika seseorang memiliki pendapat yang berbeda dari apa yang Anda pikirkan?

Jika sebagian besar jawaban Anda untuk pertanyaan di atas adalah “ya”, mempelajari kemampuan bersikap asertif mungkin akan bermanfaat untuk Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like