Memahami Kebencian dalam Pernikahan: Mengapa itu Terjadi dan Bagaimana Cara Menghadapinya

kebencian dalam pernikahan

Mengapa Kebencian dalam Pernikahan Bisa Terjadi?

Menikah dengan seseorang artinya Anda harus berhadapan dengan mereka setiap hari. Kami saling mencintai, namun timbunan emosional kami telah terakumulasi. Saling merayu menjadi terlupakan, dan pada akhirnya menyebabkan munculnya kebencian dalam pernikahan.

Seseorang yang termasuk ke dalam kategori romantis akan mencari aspek tersebut dalam pasangan, dan mereka ingin menemukan seseorang yang bisa membuat mereka bahagia. Pikiran bawah sadar mereka mengatakan agar mereka mengejar seseorang yang tidak hanya baik, berbudi, dan menarik. Pikiran tersebut memerintahkan mereka untuk mencari orang yang akan memenuhi semua kebutuhan emosional yang mungkin mereka butuhkan di masa depan: frustrasi, penghinaan.

Afeksi di awal hubungan adalah sesuatu yang tak terhindarkan, dan seiring berjalannya waktu reaksi kimia tersebut akan mulai memudar. Hal-hal lain akan terlihat jauh lebih penting. Kita sudah tidak lagi menyimak cerita pasangan kita tentang bagaimana keseharian mereka, bahkan kita justru merasa bosan mendengarkannya. Ada penjelasan sederhana namun dangkal mengapa hal ini terjadi: setiap orang merasa bosan satu sama lain. Mendinginnya sebuah hubungan dalam sudut pandang ini terjadi karena kedua pihak sudah sangat saling mengenal kepribadian masing-masing.

Meskipun demikian, ada penjelasan lain yang bisa diharapkan. Kehilangan ketertarikan bukan sesuatu yang alami atau tidak terhindarkan. Hal tersebut muncul karena kita merasa terluka, marah, atau takut terhadap pasangan kita. Kita mungkin kesulitan menunjukkannya, sehingga kita menjadi bingung dan tidak bisa jujur terhadap diri sendiri—apalagi terhadap pasangan kita. Sehingga kita memilih jalan yang mudah namun menyakitkan, yaitu dengan menghilangkannya.

Ada kemungkinan Anda tidak sadar akan rasa sakit, marah, atau takut pada pasangan. Tiba-tiba saja Anda harus berhadapan dengan konsekuensi berupa rasa cinta yang semakin surut pada mereka. Kita menjadi sarkastis dan menyebalkan, dan bagian yang paling membuat frustrasi adalah kita bahkan tidak tahu penyebabnya. Hal ini bukanlah kepura-puraan namun kebingungan.

Tentu saja ada cara bagaimana menghadapinya. Yaitu dengan saling memiliki kesadaran dan memaafkan. Bersiaplah untuk membuat komitmen bahwa kita akan menyelesaikan semua perbedaan dan perselisihan yang ada.

Bagaimana Cara Menghadapi Kebencian dalam Pernikahan

Katakan pada pasangan tentang hal-hal dalam diri Anda yang Anda harapkan mendapat apresiasi dari mereka

Tanamkan dalam pikiran bahwa ini bukan saatnya untuk bermain sebagai korban dan membuat pasangan Anda sebagai antagonisnya. Itu bukanlah tujuannya. Menjadi tidak terlihat dan dipaksa untuk masuk ke dalam kehidupan pasangan kita adalah hal yang terjadi di setiap hubungan. Memulainya sangat mudah, menyenangkan, dan penuh kejutan. Anda hanya tahu yang baik-baik saja tentang satu sama lain, hingga waktu menunjukkan segalanya dan Anda hanya bisa melihat keburukan mereka saja. Ibarat hidup di istana, kita bahkan tidak bisa melihat pilar-pilar penyangganya lagi.

Agar tidak terdengar defensif saat kita menyatakan perasaan, singkirkan semua potensi kemarahan dalam diri. Ketika kesempatan besar untuk lebih terbuka dan meminta maaf pada pasangan telah datang, Anda harus cukup berani untuk mengakui kesalahan Anda sendiri.

Disamping menjadi dewasa untuk mengakui kesalahan, mengerti perilaku dan sifat pasangan akan membantu kita lebih memahami mereka. Mereka membawa banyak timbunan emosi yang tidak bisa mereka hadapi semudah itu.

Katakan pada mereka hal-hal yang Anda ingin untuk mereka maafkan

Kesalahan yang membebani Anda, kesalahan yang Anda ingin pasangan Anda tahu bahwa Anda tidak pernah dengan sengaja ingin melukai mereka.

Pada saat-saat dimana pikiran ini jernih, kita akhirnya menyadari betapa kita sering menyebabkan masalah untuk pasangan kita. Tidak apa-apa. Setiap orang itu kompleks, dan Anda hanyalah dua individu kompleks yang ingin memperbaiki keadaan.

Oleh karena itu, penting memiliki kesadaran diri dan kedewasaan untuk mengakui kesalahan kita, berkomitmen untuk menunjukkannya tanpa menjadi defensif terhadap satu sama lain dan saling berjanji untuk memperbaiki diri.

Rasa sakit bukanlah sesuatu yang mudah untuk dibicarakan, itulah mengapa kita melampiaskannya dengan cara berbeda-beda, yang terkadang tidak dimengerti pasangan kita. Fokusnya disini adalah agar Anda didengar dan dimengerti. Hasil akhir yang muncul seharusnya adalah penyelesaian konflik, bukan menghidupkan kembali luka lama atau malah membuat luka baru. Buatlah komitmen untuk saling terbuka tentang apa yang saling melukai satu sama lain.

Katakan apa yang bisa mereka lakukan untuk membantu Anda berubah

Dalam hati nurani, kita tahu kita ingin berubah. Tetapi nyaris mustahil jika lingkungan sekitar tidak mendukung. Itulah mengapa kita harus berkomunikasi dengan pasangan kita. Mintalah bantuan mereka. Katakan pada mereka betapa kita membutuhkan mereka supaya proses perubahan tersebut nyaman bagi kedua pihak. Namun, tidak ada jaminan bahwa perubahan tersebut akan datang dengan mudah. Adanya keinginan untuk berubah berarti kita tidak acuh dengan kesalahan kita.

Saat kita berpikir tentang kebencian dalam pernikahan dan hubungan yang semakin dingin, mungkin kita tidak kehilangan ketertarikan pada pasangan kita sama sekali. Kita hanya butuh kesempatan untuk membayangkan bahwa diam-diam kita sangat terluka dan marah pada mereka. Dan kita seharusnya bisa berbicara dengan halus, fokus pada perasaan-perasaan kritis sehingga kedua pihak bisa memberi dan menerima tanpa ada kesalahpahaman dan penghinaan.

Masih ada cinta di antara kita. Kita hanya perlu duduk dan berbicara yang benar untuk merasakan nyala api cinta sekali lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like