Perilaku Narsistik: Apa yang Harus Dilakukan?

Kita semua tahu bahwa kita hidup di era teknologi yang memungkinkan kita untuk mengambil foto kita sendiri kapan saja dan dimana saja, begitu juga mempercantik hasilnya dalam aplikasi penyunting foto menggunakan satu perangkat bernama ponsel pintar. Namun, sebagian dari kita melangkah lebih jauh. Mereka mengambil swafoto di pemakaman—dengan senyum lebar—atau bahkan di puncak gedung yang sangat tinggi!

Hal berikutnya yang kita tahu, mengambil swafoto adalah perilaku narsis karena mengindikasikan kecintaan diri yang terlalu tinggi. Benarkah? Saya akan menunjukkan pada Anda lebih dari itu—dan apa yang harus dilakukan. Teruslah membaca.

Narsisisme: Di balik sebuah nama

Mari kita mulai dengan namanya. Narcissistic personality disorder (NPD)—atau yang juga diketahui sebagai “narsisisme”—mengambil nama seorang karakter mitologi Yunani, Narcissus. Mungkin Anda pernah mendengar nama itu sebelumnya. Dideskiripsikan sebagai kecintaan diri, kebanggaan diri, dan keegoisan yang berlebihan, kondisi psikologis ini benar-benar mewakili perilaku Narcissus yang terlalu mencintai dirinya sendiri hingga ia jatuh cinta pada bayangan dirinya di sebuah danau.

Narcissus berpikir ia jatuh cinta dengan orang lain yang muncul di danau, sampai suatu ketika ia menyadari dirinya salah. Ia meninggal dengan rasa sedih mendalam karena mencintai seseorang yang tidak pernah ada (bayangannya sendiri).

Narsisisme pertama kali diperkenalkan pada 1967 oleh Otto Friedmann Kernberg, seorang psikoanalis dari Wina, Austria dengan jargon “struktur mitologis kepribadian narsistik.” Di tahun berikutnya, Heinz Kohut, psikoanalis lain dari Austria mengajukan istilah “narcissistic personality disorder” yang digunakan hingga saat ini.

Apa yang termasuk Perilaku Narsistik?

Sebagai salah satu gangguan kepribadian, NPD ditandai oleh perilaku narsistik, seperti kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, ego yang tinggi, dan kurangnya empati. Seseorang dengan kondisi tersebut sangat ambisius dalam meraih kesuksesan, kekuasaan, atau penampilan sempurna sepanjang waktu. Sayangnya, dalam mencapai tujuan mereka kerap memanfaatkan orang-orang di sekelilingnya. Perilaku narsistik umumnya mulai muncul ketika seseorang tumbuh menjadi dewasa muda.

Berdasarkan DSM-5 (diagnosis untuk NPD), individu dengan gangguan kepribadian tersebut ditandai dengan perilaku berikut ini.

  • Gengsi berlebihan.
  • Obsesi pada khayalan tentang kekuasaan, kecantikan, kesuksesan, cinta sempurna, dan kecerdasan yang tidak terbatas.
  • Rasa percaya diri berlebihan merasa dirinya paling istimewa dan diakui oleh orang atau organisasi yang juga istimewa.
  • Kebutuhan untuk mengagumi diri sendiri yang berlebihan.
  • Perasaan bahwa seseorang layak mendapatkan perlakuan istimewa dan menerima kepatuhan dari orang lain.
  • Kecenderungan memanfaatkan orang lain untuk mencapai tujuan.
  • Ketiadaan empati.
  • Rasa cemburu terhadap orang tertentu.
  • Arogansi atau kesombongan.

Selain itu, menurut diagnosis DSM-5, seseorang dengan NPD merasa sangat terganggu saat menerima kritikan dari orang lain atau dikalahkan oleh musuh terbesarnya. Di samping rasa gengsi yang berlebihan, seorang narsis juga bisa menarik diri dari masyarakat dan menunjukkan kerendahan hati palsu untuk mencari lebih banyak perhatian dari orang di sekitar. Jadi, penting bagi Anda untuk meningkatkan kesadaran akan kondisi tersebut.

Narsis dalam Prosesnya: Faktor-Faktor Penyebab

Berbicara mengenai penyebab, saya takut saya harus mengatakan bahwa apa yang membuat gangguan kepribadian terjadi belum sepenuhnya dipahami. Para ahli hanya bisa memberitahu kita bahwa faktor genetik dan lingkungan memberikan pengaruh yang besar dalam perkembangan kondisi tersebut.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Arnold Cooper dan Leonard Groopman—psikiater profesional dari New York, AS, faktor-faktor berikut ini mungkin bertanggung jawab atas perkembangan gangguan kepribadian yang langka ini:

  • Sifat sensitif berlebihan yang merupakan bawaan lahir.
  • Terlalu membanggakan pujian atas perbuatan-perbuatan baik—di sisi lain—membesarkan kritik yang diterima pada masa kanak-kanak.
  • Rasio yang tidak seimbang antara kekaguman dan umpan balik dari orang tua mereka kepada anak-anaknya.
  • Dimanjakan oleh kedua orang tua dan anggota keluarga lainnya.
  • Dipuji oleh orang-orang dewasa atas penampilan fisik atau kemampuan yang dimiliki.
  • Mengalami kekerasan secara verbal dan emosional selama masa kecil.
  • Kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tua.
  • Mengamati tindakan-tindakan manipulatif dari orang tua atau teman sebaya.

Bagaimana Mengatasinya

Disamping fakta bahwa NPD adalah kondisi psikologis yang langka—di Indonesia tercatat kurang dari 150.000 kasus per tahun, gangguan ini dapat dirawat dan diatasi. Namun, perlu dipahami bahwa kondisi ini tidak dapat disembuhkan, sehingga ekspektasi tinggi terhadap narsisme dapat hilang adalah sebuah kesalahan.

Merawat seorang yang narsis adalah sesuatu yang menantang karena kondisi ini menyebabkan mereka menjadi lebih mudah terganggu dan defensif. Dengan demikian, semakin sulit untuk memahami permasalahan mereka yang tak terlihat. Oleh karena itu, pertolongan para ahli sangat direkomendasikan, seperti psikoterapi untuk membantu pasien menunjukkan rasa empati yang lebih kepada orang lain.

Sementara itu, jika Anda kebetulan memiliki anggota keluarga, teman, atau pasangan yang memiliki kecenderungan menjadi seorang narsis, hanya sedikit petunjuk untuk mengetahui bagaiman cara mengatasi kondisi ini—atau apakah Anda harus mencari pertolongan atau membiarkan mereka sendiri.

Seorang narsis biasanya suka memainkan permainan emosi “hot potato”. Ketika Anda mengeluh tentang kekurangan pasangan dalam hubungan atau menuntut mereka untuk melakukan tanggung jawab mereka, secara otomatis mereka akan menarik diri dan menyerang. Percayalah pada saya; pada akhirnya Anda-lah yang akan dipersalahkan. Inilah tujuan seorang narsis, untuk membuat orang-orang di sekitar mereka merasa bersalah bahkan untuk kesalahan yang mereka buat sendiri.

Ngomong-ngomong soal perasaan bersalah, berdasarkan banyak penelitian, menyembunyikan perasaan kesal dan gengsi tampaknya merupakan salah satu ciri khas dari narsistik. Ini merupakan bagian dari emosi “hot potato” yang mereka mainkan dengan Anda. Jika Anda bisa mendiskusikan hal ini dengan baik bersama pasangan, itu adalah hal yang bagus. Namun, jika Anda memang membutuhkan bantuan, maka carilah. Sebagai peringatan, hubungan yang beracun dapat berubah menjadi kekerasan dalam waktu singkat.

Jadi, sekarang Anda tahu bahwa mengambil swafoto bukan satu-satunya perilaku narsis yang pernah ada. Kini saatnya untuk sadar dan peduli.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like